Menanamkan Rasa Nasionalisme bagi Generasi Muda
05 Sep 2017

Sebuah penelitian menemukan bahwa pendidikan memiliki kontribusi yang signifikan kepada pembentukan identitas nasional dari siswa[1]. Di tengah-tengah era globalisasi, identitas nasional sebagai warganegara Indonesia dapat dikaburkan oleh terpaan budaya dan nilai-nilai global yang terutama menerpa kelompok anak-anak muda kita yang dekat dengan teknologi, Internet (khususnya media sosial) dan perkembangan arus tren terkini.

Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH) telah berupaya menanamkan identitas nasional dalam diri setiap siswa yang dididik di sekolah-sekolah di bawah naungan YPPH. Menanamkan identitas nasional dan rasa nasionalisme merupakan hal yang penting bagi seorang siswa, sehingga kemana pun ia akan pergi nantinya, ia tidak akan lupa dengan identitasnya sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan memiliki panggilan untuk kembali membangun bangsa. Hal ini bertepatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-72 yang menjadi salah satu implementasinya.

Perayaan Hari Kemerdekaan di SPH Lippo Village

Pada hari Jumat, 18 Agustus 2017 silam, Sekolah Pelita Harapan (SPH) Lippo Village mengadakan perayaan Hari Kemerdekaan seluruh sekolah dengan melibatkan para siswa dan guru dari jenjang TK hingga SMA. Perayaan diawali dengan upacara bendera yang khidmat dengan melibatkan tim paskibraka dan orkestra musik dari siswa/i SMA. Siangnya, acara dilanjutkan dengan permainan-permainan menarik mulai dari lomba memakan kerupuk, tarik tambang, balap karung, dan permainan-permainan kreatif lainnya.

Sebagai sekolah bertaraf internasional, SPH pun juga tetap tidak melupakan identitasnya sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Seorang siswa kelas 12, Nikko Terano, memaknai kemerdekaan sebagai hari patriotis yang mana kita mengingat bagaimana bangsa kita sudah bebas dari intervensi negara penjajah.  Sedangkan, Benito Jordie, siswa kelas 12 lainnya, memaknai kemerdekaan lebih luas dari sekadar kemerdekaan dari kekangan fisik.

“Bagi saya kemerdekaan adalah kebebasan dari kekangan tembok-tembok sosial yang selama ini ada. Masalah Indonesia terbesar sekarang ini adalah adanya tembok-tembok sosial ini, yang membedakan orang dari ras, suku, agama dan tingkat ekonomi. Justru harusnya perbedaan-perbedaan ini bukan menjadi kelemahan, malah menjadi kekuatan kita sebagai satu bangsa. Dari perbedaan-perbedaan ini, bisa ada pemikiran atau ide-ide yang dapat disumbangkan untuk memikirkan kemajuan bangsa bersama-sama,” tutur Jordie.

Upacara Bendera di SDH Makassar

Perayaan Hari Kemerdekaan juga dilangsungkan di Sekolah Dian Harapan (SDH). SDH Makassar mengadakan perayaan tersebut pada tanggal 18 agustus, sedangkan SDH Cikarang tanggal 21 Agustus 2017. Selain permainan-permainan tradisional seperti gobak sodor, tarik tambang dan balap karung, terdapat juga lomba mengeja teks Pancasila, mewarnai dan menggambar komik yang berkaitan dengan nasionalisme maupun kemerdekaan. Seluruh acara ini bertujuan untuk membangun rasa nasionalisme dan menjadi wadah bagi siswa untuk belajar bekerja sama satu sama lain.

Sekolah Lentera Harapan (SLH) juga turut berpartisipasi dalam merayakan Hari Kemerdekaan. SLH Rote mengadakan hari perayaan Kemerdekaan Indonesia juga pada tanggal 18 Agustus 2017. Terdapat berbagai aktivitas kelas mulai dari siswa-siswa TK A hingga SD: senam pagi bersama, menyanyi lagu kebangsaan, dan membuat hiasan bingkai di foto pahlawan nasional. Ada satu kegiatan menarik yang dikerjakan oleh siswa kelas 1 SD, yaitu menulis apa yang menjadi harapan mereka akan bangsa Indonesia. Ibu Dince Bunda selaku Kepala Sekolah SLH Rote menekankan akan pentingnya menanamkan rasa nasionalisme sejak usia dini.

Suasana Kegiatan Hari Kemerdekaan di SLH Rote

“Menurut saya sangatlah penting mengajarkan anak-anak sejak usia dini tentang makna Hari Kemedekaan karena anak-anak merupakan generasi penerus bangsa. Mereka perlu untuk mengerti bahwa menjadi bagian dari Indonesia adalah anugerah dari Tuhan. Karena mereka tidak memilih, tetapi Tuhanlah yang memberikan kesempatan ini bagi mereka. Apa yang mereka nikmati saat ini di Indonesia adalah berkat dan penyertaan Tuhan melalui para pahlawan yang telah berjuang di masa lampau. Untuk itu mereka perlu terus mengingat jasa para pahlawan, dan melanjutkan perjuangan dengan belajar sungguh-sungguh dan melakukan yang terbaik bagi Indonesia, terlebih untuk kemuliaan nama Tuhan. Indonesia adalah rumah. Selayaknya rumah yang mereka tinggal, maka menjaga dan merawat alam Indonesia adalah tanggung jawab mereka,” papar Ibu Dince Bunda.

“Harapan saya untuk murid di SLH Rote sebagai generasi penerus bangsa adalah menjadi agen perubahan dimulai dari lingkungan keluarga mereka, barulah ke lingkungan masyarakat,” imbuh beliau mengenai harapannya akan siswa/i di SLH Rote.

Harapan ini bukan hanya tertuju bagi siswa SLH Rote saja, melainkan bagi siswa-siswa lain yang dididik di bawah naungan YPPH. Di mana pun mereka dididik, kiranya siswa-siswa ini boleh menjadi generasi penerus bangsa yang takut akan Tuhan, berjiwa nasionalis, memiliki visi akan perubahan, dan terlibat langsung dalam pembangunan bangsa. (IA)



[1] The Role of Education in Shaping Youth’s National Identity http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1877042812037470

 

 

Role of School in Cultivating Nationalism Sense in Young Generation

Flag Ceremony at SPH Lippo Village

A research found that education has a significant contribution in the formation of national identity in students’ lives. In this globalized world, national identity as an Indonesian citizen can be obscured by the exposure of globalized values and cultures that is mostly affected youths who are highly exposed with technology, Internet (especially social media) and the latest trend.

Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH) seeks to cultivate national identity in every student. Cultivating national identity and sense of nationalism are important for students, so that wherever they go in the future, they will not forsake their identity as a part of Indonesia and they will have the passion to build the nation. This coincided with the 72nd Independence Day of Indonesia.

On Friday, August 18, 2017, Sekolah Pelita Harapan (SPH) Lippo Village held the whole-school Independence Day celebration, including all the students from Junior to Senior School and also teachers. The celebration started with a solemn flag ceremony, accompanied by the Paskibraka team and students’ orchestra. The event followed by interesting games such as eating crackers (kerupuk), tug of war, sack race and other creative games.

As an international school, SPH also stays true to its identity as a part of Indonesia. One of Grade 12 students, Nikko Terano, perceived Independence Day as a patriotic day where we commemorate how we had been freed from the intervention of the colonials. On the other hand, Benito Jordie, another Grade 12 student, perceived Independence Day in a broader sense than just a physical confinement.

“For me, independence is the freedom from the confinement of social walls. Indonesia’s biggest problem nowadays is these social walls that discriminate people from their race, ethnicity, religion and economic level. These differences should not be a weakness, but our strength as a nation. From these differences, ideas can be generated from different perspectives so that all parties can think together on how to build the nation,” said Jordie.

Independence Day was also celebrated in Sekolah Dian Harapan (SDH). SDH Makassar, for example, conducted the celebration on August 18 while SDH Cikarang on August 21, 2017. Besides the traditional Independence-day games such as "gobak sodor", tug of war and sack race, the activities were spell the text of Pancasila, coloring and drawing comics that are related with Independence Day and nationalism. All of these activities aimed to build nationalism sense and also to train students how to cooperate each other.

Tug of War at SDH Cikarang

Sekolah Lentera Harapan (SLH) also participated in celebrating Independence Day. SLH Rote conducted Independence Day celebration also on August 18, 2017. There were activities followed by K-1 to Elementary students: morning exercise together, singing the national anthem and nationalism songs, and decorating the frame of national hero photos. There was also writing a wish for Indonesia by Grade 1 students. Mrs. Dince Bunda as the School Principal of SLH Rote emphasized on the importance of cultivating the sense of nationalism from early age.

“According to me, it is highly important to teach the children since early age about the meaning of Independence Day since they are the future next generation of national leaders. They need to understand that to be a part of Indonesia is a grace from God. They cannot choose where they would have been born, but God Himself who had given the chance to them. What they have been enjoyed now in Indonesia is a blessing from God through our predecessors who had fought in the past. Therefore, they need to remember that and to continue the fight by studying hard and do the best for Indonesia, especially for God’s glory. Indonesia is our home. Like their own home, it is their responsibility to preserve Indonesia,” said Mrs. Dince Bunda.

Writing Personal Wish for Indonesia at SLH Rote

"My hope for students in SLH Rote as the next generation of the nation is to be  an agent of change, starting from their family, then to the community and society," she added.

This hope is not just addressed to SLH Rote students only, but also to other students educated under YPPH. Wherever they are, may these students become the next generation of God-fearing, national-minded, visionary, and directly involved in nation-building.

 

SLH Rote Students with Teachers and Principal

See Also: